Rabu, 16 November 2011

Menulis Populer

Kuliah Tamu (21 Oktober 2011)
Oleh : Rudi Santoso



Hari Jumat, tanggal 21 Oktober 2011, Sistem Informasi ITS kedatangan tamu yang merupakan seorang penulis. Beliau memberikan kuliah yang isinya menceritakan tentang “Menulis Populer”. Dalam kuliah tersebut, dijelaskan berbagai hal agar kita dapat menulis dengan sederhana, namun bisa diterima masyarakat luas.

Dalam menulis populer, kita perlu memerhatikan berbagai aspek, terutama penggunaan bahasa, istilah, dan sasaran pembaca. Dari segi tulisan, pastikan kata-kata yang digunakan ialah kata-kata populer, yang diketahui oleh orang banyak. Hindari pemakaian istilah asing dalam tulisan yang kita buat. Jangan lupakan rumus sederhana dari sebuah kalimat : S-P-O-K (Subyek-Predikat-Obyek-Keterangan), walau terkesan sepele, ini juga merupakan unsur penting.

Saat seseorang membuat karya, pastilah dia menginginkan karyanya dinikmati orang banyak dan tidak dilewatkan begitu saja. Begitu pula dengan tulisan yg kita buat, kita pasti ingin tulisan kita dibaca orang banyak. Oleh karena itu, kita harus memperhatikan sasaran pembaca dari karya kita agar isi tulisan yang kita buat nanti pas dengan usia sasaran pembaca kita dan bisa dinikmati.

Satu lagi, dalam membuat karya tulis, jangan puas hanya dengan satu tulisan. Karena tulisan pertama kita belum tentu sempurna. Maka, jangan mudah menyerah dan tetaplah menulis!!!!!!

Senin, 14 November 2011

Alangkah lucunya (negeri ini)


Sebuah film yang dirilis oleh Deddy Mizwar pada tahun 2010. Mengisahkan tentang seorang sarjana manajemen, Muluk (Reza Rahadian), yang hidup di Jakarta. Dia bekerja di salah satu perusahaan. Namun, karena tingginya persaingan, perusahaan itupun bangkrut. Di suatu kesempatan, Muluk bertemu seorang pencopet bernama Komet, lalu Muluk dibawa ke markas pencopet dan dipertemukan kepada bos dari para pencopet, Jarot (Tio Pakusadewo). Dari pertemuan tersebut, Muluk melihat adanya peluang untuk mendapat penghasilan cukup dari para pencopet. Dia pun menawarkan kerjasama dengan Jarot, Muluk akan mengelola keuangan mereka dan meminta imbalan 10% dari hasil mencopet.
Dalam usaha mengelola keuangan para pencopet dan mendidik para pencopet agar menjadi orang yang berpendidikan, Muluk dibantu teman-temannya, Pipit (Tika Bravani) dan Samsul (Asrul Dahlan). Pipit membantu Muluk dalam memberikan pendidikan agama Islam pada pencopet, sedangkan Samsul memberikan pendidikan umum. Akan tetapi, ayah Muluk tidak setuju dengan apa yang dilakukan Muluk karena ia tidak ingin anaknya berurusan dengan pencopet. Tetapi, Muluk tidak menyerah dan tetap mendidik para pencopet. Sampai suatu ketika, dia menginginkan para pencopet itu untuk tidak lagi mencopet, dan menjadi pedagang asongan. Beberapa pencopet tidak setuju, tetapi Jarot setuju. Alhasil, beberapa dari mereka menjadi pengasong, namun beberapa dari mereka tetap mencopet.


                Film ini cukup mencerminkan kehidupan masyarakat Indonesia sekarang. Kondisi persaingan perusahaan, tingginya tingkat kriminalitas, kurangnya pendidikan, dan lain-lain. Di satu sisi, film ini menyindir pemerintah yang kurang memperhatikan rakyatnya. Namun, di sisi lain, film ini mampu menjadi inspirasi bagi bangsa Indonesia agar tidak mudah menyerah, peduli terhadap sesama, mengerti tentang hal yang salah dan yang benar, dan lain-lain.
                Apapun itu, apapun kondisi bangsa Indonesia, kita semua sebagai masyarakat Indonesia harus tetap bangga terhadap Indonesia. Dan memberikan yang terbaik yang bisa kita beri untuk Indonesia. Kita harus turut serta dalam membangun Indonesia.
                Di akhir film, muncul pernyataan keras yang menjadi jiwa film ini: “Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara”, bunyi pasal 34 UUD 1945. Inilah yang perlu diperhatikan. Film ini benar-benar menginginkan pemerintah untuk semakin sadar dengan kondisi rakyatnya yang seperti didalam adegan-adegan yang ada.
                Terakhir mari kita renungkan adegan ini : Kala pencopet dengan sukses mengadakan upacara bendera. Begitu lagu kebangsaan Indonesia Raya berhenti, “Hiduplah Indonesia Raya”…tiba-tiba yang paling kecil menyeletuk : ”Amin!”, sembari menggerakkan tangannya mengusap wajah, layaknya berdoa.