"Sekjen PBB mengatakan, intervensi militer yang dilakukan NATO di Libya dilakukan sesuai dengan Resolusi Dewan Keamanan PBB 1973. Hal ini sangat bertentangan dengan fakta yang ada," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Alexander Lukashevich, seperti dikutip IANS, Jumat (23/12/2011).
Lukashevich menambahkan, Ban mencoba untuk menggambarkan perang Libya sebagai bentuk resolusi krisis di masa depan. Ban seharusnya memperhitungkan suara dari seluruh anggota PBB, karena hal isu ini merupakan isu yang sensitif dalam agenda global.
Rusia sebelumnya juga sudah mendesak NATO agar organisasi itu melakukan penyelidikan terhadap warga sipil yang tewas dalam perang Libya. Desakan Rusia muncul karena NATO mengklaim, tidak ada warga sipil yang tewas dalam perang Libya, NATO sendiri mengklaim misinya di Libya adalah untuk melindungi warga sipil.
Duta Besar Rusia untuk PBB Vitally Churkin juga meminta NATO agar memberikan laporan yang rinci ke DK PBB tentang aktivitasnya di Libya. Churkin juga menyayangkan NATO yang hanya memberi laporan singkat.
"Sayangnya, NATO hanya memberikan laporan yang sedikit. Laporan itu belum dapat dikatkan informatif," ujar Churkin.
Rusia, China, dan Uni Afrika saat ini berpendapat, NATO sudah menyalahgunakan Resolusi DK PBB yang menjadi pembenaran untuk menggulingkan kekuasaan Moammar Khadafi di Libya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar